KARAKTER PRIBADI SHALAHUDDIN AL-AYYUBI

 Tak seorang pun bisa memprediksikan, sebelum Shalahuddin merebut Mesir dan berhadapan dengan tentara salib, bahwa pemuda ini pada suatu hari akan muncul sebagai penakluk Yerusalem dan sebagai pejuang agama yang tangguh ( Abul  Hasan Ali Nadwi)

Alwi Alatas, penulis buku Shalahuddin Al-Ayyubi dan Perang Salib III sedang membedah bukunya di AQL Islamic Center, Tebet, Jakarta Selatan, Sabtu (20/11)
Alwi Alatas, penulis buku Shalahuddin Al-Ayyubi dan Perang Salib III sedang membedah bukunya di AQL Islamic Center, Tebet, Jakarta Selatan, Sabtu (20/11). (Foto : Hafiez Achmad)

Tulisan ini saya kutip dari buku ‘Shalahuddin Al-Ayyubi dan Perang Salib III’ karya  Alwi Alatas, M.HSc. Beliau telah menghasilkan 25 judul buku yang telah diterbitkan di Indonesia dan Malaysia, diantaranya buku-buku tentang agama Islam, motivasi, remaja, novel dan sejarah yang merupakan konsentrasi dari pendidikan beliau. Buku setebal 496 halaman ini diterbitkan oleh penerbit Zikrul Hakim.

SOSOK LEMBUT DAN BERLAPANG DADA

Suatu hari, Shalahuddin sedang duduk ditenda bersama beberapa orang emirnya, beliau merasa lelah dan hendak beristirahat, namun karena sudah mendekati waktu shalat beliau memutuskan untuk shalat terlebih dahulu. Tiba-tiba datanglah seorang prajuritnya yang sudah agak tua dan beliau hormati.

Prajurit tersebut datang mewakili prajurit lainnya untuk meminta Shalahuddin menandatangani sebuah surat permohonan. Namun karena beliau sedang merasa lelah, Shalahuddin meminta agar ditunda dahulu beberapa saat. Sang prajurit tua itu tetap memaksa, kemudian ia buka surat tersebut dan didekatkan kewajah atasannya. Isi dari surat tersebut adalah nama-nama yang beliau kenali dan beliau bergumam “Seorang yang patut di hormati”.

Kemudian prajurit tua itu meminta beliau untuk mengesahkan surat permohonan tersebut. Akan tetapi Shalahuddin tidak membawa kotak pena dan beliau tidak mengetahui dimana letak kotak pena untuk mengesahkan surat tersebut. Lalu prajurit tua itu, seolah ‘memerintah atasannya’ menunjuk pada sebuah tenda yang lain dimana letak kotak pena tersebut agar mendapatkan pengesahan. Shalahuddin berkata “Demi Allah, dia benar”, kemudian ia mengambil kotak pena untuk mengesahkan surat permohonan dari prajurit-prajuritnya.

Ibn Shaddad yang menyaksikan kejadian sambil mengutip ayat Al Qur-an (QS 68;4) berkata “saya terfikir bahwa tuan memiliki akhlak yang mirip dengan beliau (Rasulullah SAW)”. Kemudian Shalahuddin menjawab “sama sekali bukan begitu, kita hanya menyelesaikan urusannya dan ganjarannya (di akhirat) menjadi milik kita”.

RAMAH DAN PEMURAH

Shalahuddin lebih memilih hidup sederhana meski banyak memperoleh harta rampasan perang, dan ketika wafatnya beliau hanya meninggalkan satu keping dinar emas serta empat puluh dirham perak tanpa meninggalkan kekayaan lainnya seperti tanah, property, kebun ataupun lahan pertanian.

Seringkali orang-orang datang kepada Shalahuddin untuk mendapatkan pemberian darinya, karena mereka mengetahui bahwa Shalahuddin adalah orang dermawan di saat lapang maupun sempit.

Suatu hari harta rampasan perang yang didapatkannya semasa perang salib ketiga sebanyak 18.000 ekor kuda dan bagal dibagi-bagikannya di dataran Acre. Beliau sangat mudah membagi-bagikan harta negara untuk kesejahteraan rakyatnya, sehingga bendahara negara sering menyembunyikan sejumlah uang negara dari Shalahuddin dengan tujuan untuk berjaga-jaga bilamana suatu saat negara mengalami krisis keuangan. Apabila Shalahuddin mengetahui masih ada harta negara yang tersisa, tentu saja beliau akan mengeluarkannya untuk dibagi-bagikan kepada rakyatnya.

MUDAH TERSENTUH HATINYA DAN MENETESKAN AIR MATA

Pada malam hari, biasanya Shalahuddin meminta salah seorang yang menyertainya untuk membacakan ayat-ayat Al Qur-an dan beliau mendengarkan. Pada pertemuan-pertemuan umum beliau juga selalu meminta seseorang untuk membacakan Al Qur-an satu hingga dua puluh ayat bahkan terkadang lebih. Setiap kali Shalahuddin mendengarkan Al Qur-an, hati beliau dengan sangat mudah tersentuh secara emosi hingga meneteskan air mata.

SOSOK PEMAAF DAN TIDAK UNGKIT KESALAHAN

Suatu hari Shalahuddin meminta untuk diambilkan air, sedangkan beliau dalam keadaan sangat kehausan akan tetapi sampai lima kali mengulangi permintaannya beliau tidak mendapatkan seseorang yang datang membawakan air untuknya. Kemudian beliau berseru, “teman-teman, demi Allah saya hampir mati kehausan !” Kemudian setelah itu ada yang datang membawakan air untuknya dan beliau segera meminumnya dan Shalahuddin tidak pernah mengungkit lagi peristiwa tersebut dan melupakan kelalaian dan kelambanan anak buahnya.

Pada kesempatan lain, seorang prajurit sedang melemparkan sepatu boot kepada kawannya, akan tetapi salah satu lemparan dari seorang prajurit jatuh didekat Shalahuddin. Namun Shalahuddin tidak marah, melainkan menoleh kearah lain dan berbincang-bincang kepada seseorang yang berada didekatnya dan berpura-pura tidak mengetahui kejadian tersebut guna menghindari munculnya perasaan bersalah dari diri prajurit yang melempar sepatu boot tersebut.

Di waktu yang lain lagi, Shalahuddin menderita sakit yang sangat serius dan orang-orang disekitarnya menduga bahwa beliau sudah mendekati ajalnya. Ketika sakitnya berangsur sembuh dia hendak mandi dan membersihkan diri. Untuk itu disiapkan air panas untuknya karena tubuhnya masih belum mampu  untuk mandi dengan air yang dingin. Namun karena airnya terlalu panas, beliau meminta diambilkan air dingin guna mengurangi panas air tadi. Ketika orang yang bertugas membawa wadah air dingin melintasi Shalahuddin, orang tersebut tanpa sengaja menumpahkan sebagian air dingin kelantai dan mengenai Shalahuddin. Hal itu menimbulkan efek yang sangat mengganggu ke tubuh Shalahuddin yang merasa masih sangat lemah. Tapi Shalahuddin diam saja dan tidak memarahi orang tadi.

Kemudian Shalahuddin meminta lagi diambilkan air dingin karena dirasa air untuk mandinya masih terlalu panas. Ketika orang yang bertugas membawa air dingin itu datang, untuk yang kedua kalinya orang tersebut menumpahkan seluruh air dingin kelantai. Kali ini lebih parah, seluruh air dingin didalam wadah tersebut tumpah dan mengenai tubuh Shalahuddin kembali.

Tubuh Shalahuddin yang masih belum pulih dari sakitnya menjadi sangat menderita karena terkena air dingin seperti itu. Tapi ia hanya berkata (dengan maksud bercanda) kepada orang yang bertugas membawa air tersebut , “Kalau kamu berniat membunuh saya, tolong beritahu saya.” Akhirnya orang yang bertugas tersebut meminta maaf dan Shalahuddin pun melupakan dan tidak mengungkit kejadian tersebut dilain waktu.

Demikianlah tulisan ini sedikit mewakili sosok pribadi seorang Shalahuddin Al Ayyubi. Masih banyak kisah-kisah tentang karakter pribadi Shalahuddin Al-Ayyubi yang belum dipaparkan. Sosoknya yang dihormati dan dikagumi kawan maupun lawan,  dapat dikaji lebih jauh dari buku biografi Shalahuddin Al Ayyubi.

BoYE4RnIgAAvigj

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s