Nasihat Dari Sisa Merapi

Maha Besar Allah yang telah menciptakan waktu yang penuh akan keteraturan dan Maha Suci Allah yang telah menurunkan Al Qur’an nan suci di bulan yang suci. Tidak ada sesuatu pun dijagat raya ini yang luput dari skenario-Nya.

Bagi kaum sufi, tidak ada hal yang kebetulan melainkan yang ada adalah kebenaran. Pun bagi saya  yang meyakini tidak ada sesuatu yang kebetulan melainkan adalah taqdir Allah yang telah ditulis oleh-Nya di Lauhul Mahfuzh.

“Pena telah diangkat, tinta telah mengering dan catatan telah dilipat”

Sungguh anugerah yang luar biasa. Dalam pameran foto karya anak-anak korban erupsi Merapi kemarin, kaki ini tunduk pada hati yang meminta dihantarkan menuju lokasi  Photo Booth  dipameran tersebut. Beberapa property yang terpampang dilokasi Photo Booth tersebut merupakan barang-barang milik anak-anak korban erupsi yang tersisa dan menjadi saksi pada erupsi tahun 2010 yang lalu. Diantaranya adalah uang logam, alat tulis, buku pelajaran dan mushaf Al Qur’an.

Al Qur'an sisa erupsi merapi
Debu dari Merapi yang menempel pada Mushaf Al Qur’an

Mushaf Al Qur’an inilah yang menarik dan menjadi fokus perhatian saya, sedikit mencoba untuk mengabadikannya dari berbagai sisi dan  mendefinisikan kondisi mushaf tersebut yang tampak usang, lusuh dan berbalut debu merapi.

Saya meyakini bahwa ini adalah hidayah dari Allah dalam bentuk nasihat yang sangat berharga yang patut disyukuri terlebih di bulan Ramadhan ini.

Ada satu *jumlah dari ayat Al Qur’an yang tidak sengaja menjadi titk fokus yang saya detilkan. Terlepas dari tafsir ayat tersebut akan makna yang sesungguhnya, fikiran ini terus menjelajah untuk mencari hikmah mengapa penggalan ayat tersebut tanpa sengaja saya abadikan dengan menggunakan alat perekam citra.

Al Qur'an sisa erupsi merapi
Penggalan ayat Al Qur’an yang tersisa dari erupsi Merapi 2010

“Bagi kami amalan kami dan bagi kalian amalan kalian…”

Saya mendapati nasihat bagi diri agar dapat menghargai perbedaan pendapat (khilafiyah) dalam urusan-urusan yang bukan pokok dalam agama (furu’iyah)’, biarkanlah orang lain melaksanakan amal mereka menurut apa yang telah mereka yakini dan tidak memaksakan pendapat kita agar orang lain harus sama pemahamannya dengan kita. Bila kita memaksakan apa yang kita yakini, yang ada hanyalah menimbulkan perpecahan dalam persaudaraan sesama umat muslim.

“bekerjasamalah dalam  hal-hal yang telah disepakati dan saling  menghormatilah  dalam perkara yang diperselisihkan”.

 Atas apa yang telah saya tuangkan ini, akhirnya saya memohon ampunan-Nya bila ternyata banyak kekhilafan dan kebenaran sepenuhnya milik Allah.

*Jumlah dalam bahasa Arab berarti kalimat.

Ruang Kontemplasi, Ramadhan 1434 H / Juli 2013

 

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s