Saya Mendukung Rohis Meskipun Tidak Pernah Ikut Rohis

Sebuah pemberitaan disalah satu stasiun televisi swasta yang menyatakan bahwa program ekstrakurikuler yang berada dimasjid-masjid sekolah merupakan sarana perekrutan teroris muda begitu sangat menyakitkan perasaan para aktivis Rohis (Rohani Islam) dan semakin menyudutkan umat Islam, bahwasanya teroris itu adalah orang Islam dan hanya Islam yang teroris. Wajar kalau para aktivis Rohis bereaksi keras, karena memang hanya merekalah sampai saat ini satu-satunya ekstrakurikuler yang aktivitasnya ada dimasjid-masjid sekolah, bukannya cheerleaders, paskibra, basket dll, karena tidak akan mungkin cheerleaders berjoget-joget didalam masjid, paskibra baris-berbaris didalam masjid, basket mendrible bola didalam masjid.

Sekilas saya akan memberikan gambaran mengenai ekstrakurikuler Rohis ini sebatas yang saya ketahui dizaman saya sekolah dulu yaitu SMP thn 94-97 dan SMA thn 97-2000.

Pertama kalinya saya tahu adanya organisasi atau kegiatan ekstrakurikuler yang bernama Rohis di pertengahan kelas 2 SMP, kala itu saya sedang mengikuti ekstrakurikuler lain dan bertemu dengan teman-teman saya yang sedang berada di areal mushola sekolah, dan saat itu saya bertanya kegiatan apa yang mereka lakukan, mereka menjawab kalau sedang kerja bakti membersihkan mushola dan mereka menyebutkan ekstrakurikuler mereka Rohis (Rohani Islam). Dan siapakah mereka yang beraktivitas Rohis itu ? Ternyata mereka adalah orang yang sering saya temui pada saat jam istirahat di sekolah selalu melaksanakan sholat Ashar (waktu kelas 1 sekolah siang).

Lalu ketika SMA, banyak beberapa teman SMP saya yang dulu aktif diekstrakuriler Rohis memilih untuk melanjutkan Rohis di SMA. Salah satunya adalah juara umum di  SMP saya  lebih memilih Rohis di  SMA dari pada melanjutkan Paskibra  yang merupakan ekskulnya sewaktu di SMP.  Sedangkan saya sendiri tidak pernah bergabung atau terdaftar diekstrakurikuler manapun di SMA. Dan di SMA inilah saya banyak berinteraksi dengan teman-teman Rohis yang telah saya kenal sejak di SMP.

Mereka yang masuk Rohis kebanyakan adalah orang-orang yang melanjutkannya setelah di SMP. Ada juga yang benar-benar ingin belajar Islam sebagai agamanya. Contoh nyata, ada teman SMA saya ketika SD & SMP dimasukkan oleh orang tuanya ke sekolah katolik, padahal dia Islam dan di SMA inilah dia sungguh-sungguh ingin mempelajari Islam, dia merasa bahwa jam pelajaran agama disekolah teramat sedikit waktunya dan sangat dibatasi oleh kurikulum yang ternyata tidak bersesuaian dengan yang dibutuhkan oleh dirinya, seperti membaca Al Qur’an tidak ada pada buku pelajaran agama Islam di SMA. (Tidak tahu apakah sekarang isi buku pelajaran masih sama atau tidak dengan zaman saya sekolah dulu).Tapi dengan adanya ektrakurikuler Rohis, dia merasa terbantu melalui teman-teman ataupun kakak kelasnya di Rohis, dan ini sangat positif.

Ada lagi yang menarik, pada pertengahan kelas 2  SMA, para aktivis Rohis di sekolah saya turut serta mendeklarasikan KAPMI (Kesatuan Aksi Pelajar Muslim Indonesia) di SMA lain. Terpilihlah sebagai ketuanya adalah siswa dari SMA saya. Pada acara tersebut anak-anak Rohis di SMA saya mampu mengajak teman-teman yang merupakan siswa yang bukan Rohis untuk berpartisipasi dalam pendeklarasian tersebut, mereka diantaranya adalah siswa yang tergolong brandal.

Di sisi lainnya, ada juga siswa berandal yang sering berbuat masalah disekolah, namun rajin membantu anak Rohis untuk sekedar mengepel masjid sekolah dan itu dilakukan  hampir setiap hari.

Nah dari yang saya ceritakan ini dan selama berinteraksi dengan aktivis Rohis zaman sekolah dulu, saya melihat Rohis sebagai ekstrakurikuler yang sangat positif dalam menjalankan perannya di sekolah-sekolah. Seperti tentang seorang teman yang ingin belajar Islam lalu dia dibatasi oleh kurikulum yang ada di sekolahnya maka Rohis menjadi solusi yang sangat bermanfaat bagi dirinya. Begitu juga mengenai seorang siswa brandal ikut serta dalam acara Rohis ataupun rajin mengepel masjid hampir setiap hari.

Lalu apakah pantas, ekstrakurikuler ini dicap sebagai sarana perekrutan teroris muda ? Padahal Rohis telah memberi solusi dari keterbatasan kurikulum pelajaran agama, padahal Rohis telah menjaga seorang muslim disekolahnya untuk tidak keluar dari agamanya secara paksa.

Saya meskipun tidak pernah ikut Rohis tapi mendukung aksi protes yang dilakukan para aktivis Rohis oleh sebuah media besar di negeri ini yang dengan teramat lancang mencap Rohis adalah teroris.

2 thoughts on “Saya Mendukung Rohis Meskipun Tidak Pernah Ikut Rohis

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s