Tembus Kepala Tiga

Bagi sebagian orang hari pergantian usia yang biasa disebut dengan hari ulang tahun adalah salah satu hari yang teristimewa dalam hidupnya. Terutama bagi mereka yang sudah mencapai usia-usia tertentu, misalnya di usia ke 17 tahun. Di usia tersebutlah kebanyakan dari mereka merayakan dengan meriah,  karena mereka telah menganggap diusia tersebut keputusan dalam hidup sudah mutlak ditangan mereka.

Tapi bagi saya, yang tak pernah merayakan ulang tahun dan juga tidak mau menyelenggarakan hari ulang tahun menganggap bahwa pergantian usia merupakan sebuah sunnatullah yang hakikatnya pasti terjadi kepada siapa saja bagi mereka yang masih merasakan nafas kehidupan dan hal ini diluar kuasa manusia untuk bisa menunda atau mempercepatnya.

Dan itupun terjadi pada diri saya sendiri. Dalam perhitungan tahun masehi, usia saya telah mencapai pada angka 30 tahun. Itu berarti usia 29 tahun baru saja menjadi sebuah masa lalu dan apabila mengingat apa yang pernah dikatakan oleh  nabi Muhammad SAW tentang usia umatnya yang berkisar 60-70 tahun, berarti dalam angka ideal hidup manusia, tinggal setengah perjalanan lagi menuju kematian, terkecuali bila takdir-Nya berkata lain, bisa dipercepat atau diperlambat dari kisaran usia manusia pada zaman ini.

Yang patut disyukuri saat bertambah usia di tahun ini adalah, sebuah anugerah yang sangat besar yaitu dengan adanya pendamping hidup. Sambil mencoba merefleksikan diri tentang hal-hal apa saja yang masih belum dilakukan dan mencoba menyempurnakan hal-hal yang telah dilakukan. Sebagai bahan renungan, maka saya kutipkan pesan indah dari seorang pemikir, sastrawan & penulis tafsir AlQur’an yaitu Sayyid Quthb, “usia bukanlah bilangan masa, melainkan bilangan kesadaran dan prestasi.”

Sebagai penutup dari kontemplasi dan juga penguat hati serta penyemangat diri, saya kutipkan syair dari Imam AsySyafi’ii yang madzhabnya managed rujukan sebagian umat Islam di nusantara.

“Hari-hari pasti berlalu dan peristiwa susah dan senang terjadi dalam waktu.

Dan tetaplah ridha dengan qadha yang berlaku.

Janganlah galau dengan segala musibah yang terjadi.

Sebab tiada kejadian di dunia ini yang abadi.

Jadilah orang yang kuat dalam mengarungi badai ombak permasalahan.

Sembari kamu tetap menjunjung tinggi akhlak, kelembutan dan kemuliaan.

Tiada kesedihan dan kesenangan akan selalu berkesinambungan.

Tiada kesulitan dan kemudahan akan selalu berterusan.

Sungguh jika engkau memiliki jiwa yang lapang.

Maka engkau bagaikan seorang Raja yang berkuasa dengan tenang.

Jika Maut datang Menjemputmu.

Bumi dan langit pun tidak bisa Menyembunyikanmu.”

Ruang Kontemplasi, 10 Februari 2012

One thought on “Tembus Kepala Tiga

  1. Segala Puji padaMU Pemilik Segala, yang masih memberi harapan disetiap hembusan nafas kami
    Semua nikmatMu yang tak terhitung masih melingkupi setiap detakan jantung kami yang terus dan terus merapalkan zikir cinta “Engkaulah MAHA CINTA yang menebar segala eter kehidupan yang berketerusan”
    Setiap syukur tertulis di jejak lembaran hari-hari yang telah berlalu

    Mengulang tahun kembali….
    Berarti hilang satu lagi jatah kehidupanmu di dunia ini.
    Dan itu sama sekali tidak dapat aku syukuri, karena inginku bersamamu tanpa terbatas waktu.
    Lepas lagi sekejap waktuku untuk membersamaimu, aku ingin bersedih untuk itu.
    Tapi itulah sunatuLLAH, tak tertolak tak tertahan.
    Maka akan ku lepaskan penjagaan waqtuku dan hidupmu dalam genggaman Sang Penggenggam.
    Agar nanti aku memiliki kekekalan untuk terus mencintaimu, sekekal kehidupan dari Yang Maha Kekal
    Maka nikmat tuhanmu yang manakah yang kau dustai?

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s