MAK JOGI (Hikayat Jenaka Untuk Indonesia)

Dari Melayu kita mengenal kearifan, kebijakan dan nilai-nilai yang memuliakan kehidupan tertuang dalam syair-syair. Berupa pantun maupun gurindam. Didendangkan maupun dikisahkan. Semua berpadu dalam nyanyian dan tarian. Akar Melayu MAK JOGI, Hikayat Jenaka untuk Indonesia hendaknya dipandang sebagai “gerak(an) kebudayaan” yang menggambarkan bagaimana kebudayaan melayu menggerakkan semangat ke-Indonesia-an kita.

Pementasan teater yang bertemakan akar melayu ini disajikan dengan cukup menarik dengan sisipan tari-tarian serta dengan dialog-dialog keseharian khas melayu seperti bersyair dan berpantun yang dibawakan dengan jenaka. Kritikan terhadap kondisiIndonesiaterkini pun tak terlewatkan, namun dibawakan dengan jenaka dan mencerahkah. Disetiap sesi Agus PM pendongeng kawakan asal Aceh yang khas dengan cara melagukan cerita  memikat dengan gayanya serta guyon-guyonnya.

Pertunjukan yang disutradarai oleh Butet Kertaredjasa ini juga menampilkan pakar komunikasi politik Effendy Ghazali yang berperan sebagai penasehat kerajaan yang sering mengkritisi kebijakan-kebijakan pemerintah dengan tujuan belajarlah dari akar melayu dalam menjalankan pemerintahan dinegeri ini. Hendry Lamiri juga memukau para penonton dengan gesekan dawai biolanya ketika tampil solo pada malam itu.

Pementasan teater Mak Jogi sendiri ditampilkan sejak tanggal 26-27 Juli 2011 di Graha Bakti Budaya, Taman Ismail Marzuki Jakarta.

Singkat kata singkat cerita :

Disebuah kerajaan tampak seorang raja wanita yang sedang mengalami kegelisahan ketika pada suatu malam mendapatkan mimpi tentang ancaman terhadap kemakmuran negerinya. Dalam mimpinya sang raja ancaman kemakmuran dinegerinya tersebut hanya bisa diatasi dengan dikumpulkannya air dari tujuh muara. Untuk itulah raja wanita tersebut memanggil para pejabat kerajaan untuk mencari jawaban mengenai arti mimpinya tersebut, hingga akhirnya salah setelah mendengarkan berbagai macam pendapat diputuskan oleh baginda raja untuk mengutus Mak Jogi seorang rakyat jelata yang berprofesi sebagai penari dikerajaan tesebut.

Dalam perjalanannya ke wilayah nusantara untuk mencari air dari tujuh muara, Mak Jogi dalam misinya tersebut ditemani oleh sahabat setianya yaitu Bujang serta dua orang pejabat kerajaan yaitu Hang Dagang dan Hang Panglima.  Ketika tiba disebuah pesisir rombongan Mak Jogi bertemu dengan sekelompok muda-mudi yang sedang melakukan tarian dan pencak silat. Mak Jogi dengan pendekatan kebudayaan meminta kepada kelompok tersebut untuk diambilkan air dari muara tersebut guna dibawa pulang kekerajaannya.  Akhirnya setelah saling mempertunjukan tarian dari masing-masing kelompok Mak Jogi berhasil membawa air dari muara dipesisir tersebut.

Setelah berhasil mendapatkan air dari muara yang pertama tibalah Mak Jogi berserta rombongannya ke tanah Jawa. Disana mereka berjumpa dengan seorang pertapa, kepada pertapa itulah Mak Joga beserta rombongannya mengutarakan misinya. Kemudian pertapa tersebut mempertemukan rombongan Mak Jogi dengang Nyi Towok. Untuk memberikan air dari muara yang ada didaerah tersebut, Nyi Towok meminta dari masing-masing orang dari rombongan untuk mempertunjukkan kemampuannya. Satu-persatu dari rombongan Mak Jogi tumbang ketika mempertunjukan tarian serta syair-syairnya terhadap Nyi Towok, hingga akhirnya Mak Jogi mampu mangimbangi tantangan dari Nyi Towok dalam menari. Akhirnya Nyi Towok terpuka dengan kemampuan Mak Jogi tersebut dan akhirnya Nyi Towok memberikan air dari muara tersebut dan Nyi Towok bersama pertapa ingin ikut dan membantu misi dari Mak Jogi. Dengan rasa haru Mak Jogi mengabulkan permintaan Nyi Towok. Disela-sela kegembiraan Mak Jogi, Hang Panglima membuat pernyataan yang mengejutka ketika dia akan tinggal ditanah Jawa. Karena dia meyakini bahwa ditanah Jawa inilah dirinya mampu menjadi seorang panglima yang lebih besar lagi.

Akhirnya rombongan tersebut meninggalkan tanah Jawa dan melanjutkan perjalanannya.  Sampailah rombongan Mak Jogi ke bumiKalimantan, disana mereka bertemu dengan seorang putri cantik. Dari putri inilah Mak Jogi mendapatkan air dari muara didaerah tersebut. Tak terasa waktu yang diberikan dalam misinya mengambil air dari tujuh muara hampir habis, akhirnya Mak Jogi beserta rombongan memutuskan untuk kembali kekerajaan hanga dengan membawa tiga air muara. Ketika akan berangkat kembali, Nyi Towok mempunyai firasat lain sehingga dia menyarankan agar Mak Jogi berserta rombongan  untuk memboyong putrid tersebut kekerajaannya. Akhirnya Mak Jogi beersama rombongan beserta putri dariKalimantantersebut bertolak menuju kekerajaan.

Tibalah rombongang Mak Jogi dikerajaannya, kemudian diserahkanlah air dari tiga muara dari tujuh muara yang diperintahkan. Akhirnya penasehat kerajaan menyatakan kepada baginda raja untuk menghukum Mak Jogi dikarenakan Mak Jogi dinilai gagal menjalankan misi kerajaan. Raja wanita tersebut pun terhasut dengan pernyataan penasehat kerajaan tersebut dan memerintahkan algojo untuk memancung Mak Jogi. Namun dengan bijak Awang Pengasuh menyampaikan penjabaran dari tafsir mimpi baginda raja, bahwa air muara yang keempat berada dikerajaannya sendiri. Namun lagi-lagi penasehat kerajaan menghasut raja dengan kurangnya tiga air muara. Kembali raja wanita tersebut memerintahkan untuk menghukum pancung Mak Jogi. Bujang sebagai teman setia Mak Jogi tidak ingin Mak Jogi dihukum sendirian sehingga Bujang meminta agar dirinya dihukum juga bersama Mak Jogi. Namun Awang Pengasuh pejabat kerajaan yang bijak tersebut mengatakan bahwa air muara yang ke enam adalah putra mahkota dari kerajaan tersebut. Kembali hasutan dari penasehat kerajaan untuk menghukum Mak Jogi karena dua air muara belum ditemukan. Awang Pengasuh pun mengatakan bahwa air muara yang enam adalah putri yang dibawa oleh rombongan Mak Jogi sehingga tertundalah hukuman terhadap Mak Jogi. Lalu penasehat kerajaan mendebat, dimanakah air muara yang ketujuh. Awang Pengasuh pun mengatakan bahwa air muara yang ketujuh yang bisa membuat kerajaan menjadi makmur dan berjaya ada pada diri putri yang dibawa oleh rombongan Mak Jogi dan putra mahkota kerajaan. Apabila air suci yang berada dalam diri mereka bersatu maka kerajaan itu akan mencapai kemakmuran dan kejayaan dengan lahirnya seorang putra mahkota baru dan akhirnya Mak Jogi terbebas dari kemalangan akan hokuman yang mengancam jiwanya. Putri dan putra mahkota kerajaan pun berterima kasih kepada Mak Jogi atas keberhasilan Mak Jogi menjalankan misi kerajaan sehingga mereka berdua pun dipertemukan.

4 thoughts on “MAK JOGI (Hikayat Jenaka Untuk Indonesia)

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s