”SANGKALA 9/10”

Ini adalah kedua kalinya saya menonton pementasan teater setelah yang pertama sekitar 16 tahun  yang lalu (kelas 1 SMP) menonton teater mblink di Istora Senayan.

Kali ini yang menjadi alasan kuat adalah sandiwara musikal betawi yang mengambil judul “SANGKALA 9/10”. Sebagai seorang yang lahir dikota Jakarta, sepertinya saya buta akan kisah ini, terlebih kemalasan membaca kisah tradisional Indonesia khususnya Jakarta. Pementasan yang diadakan di TeaterJakarta, Taman Ismail Marzuki berlangsung dari tanggal 6 s/d 8 Mei 2011.

Arti dari “SANGKALA 9/10” sendiri  adalah saat senja 9 Oktober 1740.

Singkat Cerita.

Kisah yang mengambil setting tahun 1740 adalah mengenai peritiwa pembantai etnis Tiong Hoa di Batavia, Nie Lee Kong yang merupakan ketua perguruan Hong Djian dituduh memberontak terhadap pemerintahan VOC yang dipimpin oleh Gubernur Jendral Adriaan Valckeneir. VOC merasa terancam dalam segi ekonomi mengingat  etnis Tiong Hoa terus mengalami kemajuan dalam hal perdagangan serta semakin meningkatnya populasi etnis Tiong Hoa di Batavia.

Pada mulanya VOC dalam rencana memusnahkan etnis Tiong Hoa bersiasat untuk menjalin kekuatan dengan  penduduk pribumi. Untuk itu Gubernur Jendral VOC Adriaan Valckeneir mengundang dan menjamu bang Madi pendiri perguruan silat di Bidaracinabeserta murid-muridnya. Namun bang  Madi menolak karena bertentangan dengan hati nurani.

Nie Lie Hay atau Lily anak dari Nie Lee Kong adalah seorang gadis yang mahir dalam beladiri kung fu dan mempunyai kemampuan dalam berbahasa Belanda. Ketika dia bersama ibunya yang berjualan obat dipasar diperas uangnya oleh VOC, dengan beladirinya  dia melawan meskipun senjata sudah mengancamnya. Namun Said murid dan anak dari bang Madi menyelamatkannya.

Dari sinilah kisah asmara Said dan Lily bersemi, Said yang bersama rekannya Kosim yang sedang mengalami sakit perut setelah memakan jamuan dari VOC menerima tawaran ibunya Lily untuk diobati  diperguruan Hong Djian. Sambil menyelam minum air Said yang telah jatuh hati kepada Lily punya maksud lain yaitu belajar kun fu di perguruan milik keluarga Lily dan selama 1 bulan purnama dia berjanji kepada ayahnya bang Madi untuk belajar sekaligus ingin lebih bisa berdekatan dengan Lily.

Secara tidak sengaja Said bercerita kepada keluarga Lily bahwa ayahnya pernah diiminta oleh VOC untuk bekerja sama dalam memberantas etnis Tiong Hoa yang akhirnya membuat keluarga Nie Lee Kong mencurigai kalau Said adalah mata-mata VOC. Disaat bersamaan pula Belanda telah mencium bahwa keluarga dan perguruan silat bang Madi mempunyai hubungan yang baik dan dianggap telah bersekutu dengan etnis Tiong Hoa.

Pada saat itulah bang Madi beserta murid-muridnya ditangkap oleh VOC, sementara waktu Said tengah mengalami interogasi dari keluarga Nie Lee Kong. Kosim dan Nie Tsa Pa dari keluarga Nie Lee Kong yang ditugaskan untuk memberitahu ke keluarga bang Madi kembali dan menyampaikan berita bahwa bang Madi dan murid-muridnya ditangkap oleh VOC dan akhirnya keluarga Nie Lee Kong membebaskan Said guna membebaskan bang Madi serta rekan-rekan seperguruannya.

Selagi Said membebaskan ayah dan rekan-rekannya, VOC semakin buas membantai etnis-etnis Tiong Hoa di tanahBatavia. Termasuk keluarga Nie Lee Kong juga termasuk bagian dari pembantaian oleh VOC.

Yang Menarik.

Selain menampilkan tata panggung yang menarik, lighting yang baik juga dialog-dialog jenaka dan tidak kaku ditampilkan oleh 70 anggota IANTA (Ikatan Abang None Jakarta) dari berbagai angkatan. Ditambah lagi dengan ilustrasi Bayang Pasir Orchestra yang dilakukan oleh Fauzan Ja’far

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s